KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr. Wb.

Segala puji dan syukur hanya untuk Allah, karena dengan taufik dan hidayah_Nya dapatlah diselesaikan makalah tugas mata kuliah Filsafat Islam. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan alam, Nabi Muhammad saw. Sebagai pembawa risalah untuk semesta alam.

Pada kesempatan ini penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendorong hingga selesainya makalah ini. Penulis hanya dapat bermohon kepada Allah SWT kiranya dapat membalas semua pihak telah membantu selama pembuatan makalah ini, dengan balasan yang berlipat ganda, dan selalu mencurahkan rahmat_Nya kepada mereka semua.

Akhirnya penulis berharap makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Kemudian dengan penuh kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran konstruktip guna perbaikan makalah ini.

Serang,

Penulis

DAFTAR ISI

  • KATA PENGANTAR
  • DAFTAR ISI
  • BAB I PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
  2. Rumusan Masalah
  3. Tujuan
  • BAB II PEMBAHASAN
  • Biografi Al-Suhrawardi
  • Karya-karya Al-Suhrawardi
  • Pemikiran Suhrawardi : Filsafat Iluminasi
  • BAB III PENUTUP
  • Kesimpulan
  • DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Filsafat Islam merupakan suatu ilmu yang masih diperdebatkan pengertian dan cakupannya oleh para ahli. Akan tetapi di sini penulis cendenrung condong kepada pendapat yang mengatakan bahwa Filsafat Islam itu memang ada dan terbukti exis sampai sekarang. Dalam dunia filsafat terdapat dua aliran besar yaitu aliran peripatetis dan iluminasi. Mengerti dan mengetahui kedua aliran ini adalah hal yang sangat penting ketika kita ingin mengkaji filsafat, karena semua filsuf khususnya muslim pada akhirnya merujuk dan berkaitan kepada dua aliran ini. Aliran peripatetis merupakan aliran yang pada umumnya diikuti oleh kebanyakan filsuf, sedangkan aliran iluminasi di sini merupakan tandingan bagi aliran peripatetis. Aliran iluminasi ini dipelpori oleh seorang tokoh filsuf muslim yaitu Suhrawardi al Maqtul yang dikenal juga dengan sebutan bapak iluminasi.

Suhrawardi dikenal dalam kajian Filsafat Islam karena kontribusinya yang sangat besar dalam mencetuskan aliran iluminasi sebagai tandingan aliran peripatetis dalam filsafat, walaupun dia masih dipengaruhi oleh para filsuf barat sebelumnya. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena sebagian atau bahkan keseluruhan bangunan Filsafat Islam ini dikatakan kelanjutan dari filsafat barat yaitu Yunani.

Hal pemikiran Suhrawardi dalam filsafat yang paling menonjol adalah usahanya untuk menciptakan ikatan antara tasawuf dan filsafat. Dia juga terkait erat dengan pemikiran filsuf sebelumnya seperti Abu Yazid al Busthami dan al Hallaj, yang jika dirunrut ke atas mewarisi ajaran Hermes, Phitagoras, Plato, Aristoteles, Neo Platonisme, Zoroaster dan filsuf-filsuf Mesir kuno. Kenyataan ini secara tidak langsung mengindikasikan ketokohan dan pemikirannya dalam filsafat.

  1. RUMUAN MASALAH
  • Siapakah tokoh filsafat iluminasi ?
  • Apa karya-karyanya ?
  • Bagaimanakah pemikiran Suhrawardi : Filsafat Iluminasi ?
  1. TUJUAN
  • Mengenal dan mengetahui biografi al-Suhrawardi
  • Mengetahui karya-karya al-Suhrawardi
  • Menjelaskan pekikiran Suhrawardi mengenai filsafat iluminasi

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. BIOGRAFI AL-SUHRAWARDI

Nama lengkapnya adalah Syihabuddin Yahya Ibn Amirak Abu Al-Futuh Suhrawardi. Lahir pada tahun 549 H/1153 M di Suhraward, sebuah kampung dikawasan Jibal, Iran Barat Laut dekat Zanjan.  Ia memiliki sejumlah gelar “Shaikh al-Ishraq (Guru besar Filsafat Pencerahan), Master of Illuminationist, Al-Hakim, Ash-Shahid, The Martyl,dan Al-Maqtul (gelar sesudah wafat yang berarti “orang yang terbunuh”).

Di ceritakan bahwa, salah satu peristiwa yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Suhrawardi ialah saat kematiannya. As – Suhrawardi dijuluki Al – Maqtul (yang terbunuh) ialah karena ia dibunuh oleh penguasa karena beralasan bahwa ajarannya dianggap sesat. Di tengah kemasyhurannya sebagai ulama tasawuf dan cendikiawan, pendapat – pendapatnya sering memancing kontroversi. Seperti pandangan – pandangan Al – Hallaj maupun Junaidi Al-Baghdadi, pendapat Suhrawardi dianggap menyimpang sehingga memancing polemic yang berkepanjangan. Ia meninggal di tiang gantungan dalam sebuah upacara pengadilan yang digelar oleh Sultan Salahuddin Al – Ayyubi dari Dinasti Bani Saljuk. Sebelum diadili ia dipanggil oleh pangeran Zahir bin Salahuddin Al – Ayyubi untuk mempertanggung jawabkan ajarannya dalam forum debat terbuka yang dihadiri oleh Teolog dan Fuqaha, dalam debat itu ia berhasil mempertahankan argumentasinya, sehingga pangeran Zahir pun memaafkannya, bahkan belakangan bersahabat dengannya, tapi akibatnya hal itu memancing rasa iri dan dengki. Maka berseliweranlah fitnah dan hasutan ke alamat Suhrawardi. Bahkan ada yang sempat mengirim surat ke Sultan Salahuddin Al – Ayyubi yang memperingatkan perihal “kesesatan” ajaran Suhrawardi, dan celakanya Sang Sultan malah memerintahkan Pangeran Zahir putranya, agar menghukum Suhrawardi. Zahir segera menggelar sidang, membicarakan hukuman bagi sang sufi, dan keputusan pun jatuh; Suhrawardi di jatuhi hukuman pancung. Itu terjadi pada tahun 587 H/ 1167 M, ketika Suhrawardi berumur 38 tahun. Mungkin karena ia korban persengkokolan politik, sampai makamnya pun tidak diketahui. Tetapi, karena hukuman itu nama Suhrawardi menjadi semakin melejit, masyarakat menggelarinya dengan sebutan Al – Maqtul (tokoh yang terbunuh). Ia memang telah terbunuh, jasadnya telah dibuang, tetapi pikiran – pikirannya yang cemerlang tetap hidup hingga kini Bahkan sepanjang zaman.

Suhrawardi terkenal sebagai perantau, penuntut ilmu, wilayah pertama yang ia kunjungi adalah Maragha yang berada dikawasan Azerbeijan. Di kota ini ia belajar filsafat, hukum dan teologi kepada Majd Al-Din Al-Jili, kemudian berlanjut ke Isfahan, dia belajar kepada Ibn Sahlan Al-Sawi, penyusun kitab Al-Basa’ir Al-Nasiriyyah tentang logika.  Kemudian Suhrawardi pergi ke Aleppo untuk berguru kepada Syafir IfkharAl-Din, dari kota inilah Suhrawardi terkenal.

Saat di Aleppo, Suhrawardi yang masih dalam usia belia tertarik kepada ajaran tasawuf dan akhirnya menekuni mistisisme. Dalam hal ini Suhrawardi tidak hanya mempelajari teori-teori dan metode-metode untuk menjadi sufi, tetapi sekaligus mempraktekannya sebagai sufi sejati. Dia menjadi seorang zahid yang menjalani hidupnya dengan ibadah, merenung, kontemplasi, dan berfilsafat. Dengan pola hidup seperti ini akhirnya dalam diri Suhrawardi terkumpul dua keahlian sekaligus, yakni filsafat dan tasawuf. Dengan demikian, ia dapat dikatakan sebagai seorang filosof sekaligus sufi.

Pada abad ke-6 H/ke-12 M, Suhrawardi melakukan kritik terhadap beberapa ajaran dasar parepatetisme. Dialah yang meletakkan dasar-dasar bagi filsafat iluminasionis yang bersifat mistis (Hikmat Al-Isyraq), yang kemudian memperoleh sejumlah pengikut.

Madzhab filsafat ini muncul dalam rangka merespon dan mengkritisi sejumlah gagasan Aristotelianisme yang dianggap menyimpang, khususnya sebagaimana yang tercermin dalam filsafat Ibnu Sina. Kalangan iluminasionis mengembangkan sebuah pandangan tentang realitas dimana esensi lebih penting (mendasar) ketimbang eksistensi.

  1. KARYA-KARYA AL-SUHRAWARDI

Dalam waktu singkat, yakni kurang dari tiga puluh enam tahun, Suhrawardi telah menulis lebih dari 36 buku. Dia menulis buku-buku tersebut dengan susah payah dan sangat indah jika ditinjau dari sudut kesusastraan.

Karya Suhrawardi ditulis dalam bahasa Arab dan Persi dengan penulisan yang sangat jelas dan menarik. Hal ini menunjukkan kemampuan intelektualnya dan pemikiran tinggi yang dianugerahkan Allah kepadanya.

Buku-bukunya antara lain Hikmatul Isyraq, Matarahat, Talwihat, Hikmatul Isyraq, Alwahul Amadiyah, Ilahakul Nuriya, al-Maqalat, Bustanul Qulub, al-Bariqatul Ilahiyah, Lawame-ul-Anwar, ‘itiqatadatul Hikmah, Rishalatul Isyiq,Risalah fi Jillatul Tafwiliyyah, Risalah Aqle Surkh, Rozi ba Jamat-e-Sufiya, Aawaz Pare Jibraeel, Partu Nama Yazdan Shinakht, Safir Simurgh, Bakht-e-Moran, Rishalatul Thayr, Dawatul Kawakib, Alwahul Farsiya, Ilaihul Farsiya, al-Wardatul Ilahiyah, Tauraqul Anwar, al-Naghmatul Samawiyah, dan lainnya.

  1. PEMIKIRAN SUHRAWARDI : FILSAFAT ILUMINASI

Isyraq dalam bahasa Arab berarti sama dengan kata iluminasi dan sekaligus juga cahaya pertama pada saat pagi hari seperti cahayanya dari timur (shark). Tegasnya, isyraqi berkaitan dengan kebenderangan atau cahaya yang umumnya digunakan sebagai lambang kekuatan, kebahagiaan, keterangan, dan lain-lain yang membahagiakan. Lawannya adalah kegelapan yang dijadikan lambang keburukan, kesusahan, kerendahan  dan semua yang membuat manusia menderita. Timur tidak hanya berarti secara geografis tetapi awal cahaya, realitas.

Dalam kerangka filsafat iluminasinya, pembicaraan tentang wujud tidak dapat dipisahkan dari sifat dan penggambaran cahaya. Cahaya tidak bersifat material dan juga tidak dapat di definisikan. Sebagai realitas yang meliputi segala sesuatu, cahaya menembus kedalam susunan setiap entitas, baik yang fisik maupun nonfisik, sebagai komponen yang esensial dari cahaya. Sifat cahaya telah nyata pada dirinya sendiri. Ia ada, karena ketiadaannya merupakan kegelapan. Segala sesuatu berasal dari cahaya yang berasal dari cahaya segala cahaya (nur al-Anwar). Jika tanpa cahaya semua menjadi kegelapan yang diidentifikasikan non eksistensi (‘adam). Selanjutnya “cahaya segala cahaya” disamakan dengan “Tuhan”.

Bagi Suhrawardi realitas dibagi atas tipe cahaya dan kegelapan. Realitas terdiri dari tingkatan-tingkatan cahaya dan kegelapan. Keseluruhan alam adalah tingkatan-tingkatan penyinaran dan tumpahan cahaya pertama yang bersinar dimana-mana, sementara ia tetap tidak bergerak dan sama tiap waktu. Sebagaimana term yang digunakan oleh Suhrawardi, cahaya yang ditopang oleh dirinya sendiri  disebut nur al-Mujarrad. Jika cahaya bergantung pada sesuatu yang lain disebut nur al-‘ardi.

Manusia mempunyai kemampuan untuk menerima cahaya peringkat tertinggi lebih sempurna dibandingkan binatang dan tumbuhan. Manusia adalah alam shagir (mikro kosmos) yang didalam dirinya mengandung citra alam yang sempurna dan tubuhnya membuka pintu bagi semua kejismian. Tubuh ini selanjutnya merupakan sarana bagi cahaya yang bersinar diatas semua unsur tubuh dan menyinari daya khayal (imajinasi) dan ingatan. Cahaya ini dihubungkan dengan tubuh oleh jiwa hewani, yang bertempat di jantung, dan meninggalkan badan pergi ketempatnya yang asal, yaitu alam malakut (kerajaan besar, kekuasaan), apabila badan telah hancur dan kembali kepada unsur-unsur jasmaninya. Kemudian muncul pertanyaan “Bagaimana manusia dapat memiliki kehendak ?. Menurut Suhrawardi, yang mendorong manusia berkehendak ialah cinta. Kalau kehendak terlalu menguasai jiwa maka tumbuhlah amarah. Secara umum filsafat iluminasi yang diwakili oleh Suhrawardi dalam metafisikanya selalu disimbolkan dengan “cahaya”.

Dalam bidang metafisika suhrawardi merupakan orang pertama dalam sejarah yang menegaskan perbedaan dua corak metafisika yang kelas, yaitu metafisika umum dan metafisika khusus. Salah satu ciri kekaidahan dan struktural filsafat isyraqiyyah dalam bidang metafisika yang menonjol adalah dalam hal wujud dan esensi (mahiyah). Filsafat Suhrawardi merupakan titik balik sejarah filsafat islam, yaitu sebagai suatu upaya sangat serius dalam mendekatkan mistisisme dengan filsafat rasional. Metodologi yang dibangunnya mendamaikan nalar diskursif dan intuisi intelektual yang dikemudian hari menjadi landasan filsafat islam.

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Sebuah kesimpulan dari sedikit uraian tentang al-Suhrawardi diatas, kita semakin mengetahui bahwa dia adalah seorang tokoh filsuf muslim besar yang membangun aliran iluminasi sebagai tandingan dari aliran peripatetik yang terlebih dahulu mendahuluinya. Hal ini dilakukan al-Suhrawardi dalam rangka memadukan antara ajaran tasawuf dengan filsafat. Pandangan dia bahwa pengetahuan itu bukan hanya diperoleh dari hasil akal semata, akan tetapi dari rasa (dzauq) yang awalnya ditempuh dengan jalan mujahadah dan musyahadah.

DAFTAR PUSTAKA

  • Ali Dawani, Islamic Idol, Jakarta : Al-Huda, 2009
  • Ayi Sofyan, Kapita Selekta Filsafat, Bandung : Pustaka Setia, 2010, Cet. 1
  • Bachruddin Rifa’I dan Hasan Mud’is, Filsafat Tasawuf, Bandung : Pustaka Setia, 2010
  • Muchsin Labib, Para Filosof sebelum dan sesudah Mulla Shadra, Jakarta : Al-Huda 2005
  • blogdetik.com/2011/08/31/syihab-al-din-abu-hafs-umar-al-suhrawardi-telaah-kitab-awarif-al-ma’arif/
  • Ragil-kul.blogspot.com/2011/03/tasawuf-pemikiran-israqi-suhrawardi-al.html
  • blogspot.com/2013/04/filsafat-islam-suhrawardi-al-maqtul-dan.html
  • Kisah dan Al –Kisah No 06/14-27 Maret 2005 – http://www.sufiz.com/jejak-sufi/as-suhrawardi-sufi-“cahaya-allah”-yang-dipancung.html