Cari

NUSANTARA BERSAHABAT

The best way to understand is to Undergo

Kategori

Tak Berkategori

Tafsir Al-Fatihah

TAFSIR SURAT AL-FATIHAH

PENDAHULUAN

Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad oleh malaikat Jibril secara mutawatir dan bagi yang membacanya adalah ibadah. Banyak keistimewaan-keistemewaan yang terdapat di dalam ayat-ayat atau surat-surat Al-Quran, seperti ayat-ayat yang terdapat pada seperti ayat-ayat surat Al-Fatihah (ayat 1-7). Surat Al-Fatihah memuat Aqidah, memuat konsep Islam secara garis besar, memuat segenap rasa dan arahan, yang notabene mengisyaratkan hikmah dipilihnya surat ini untuk di ulang-ulang pada setiap rakaat dan hikmah batalnya sholat yang dibacakan ini di dalamnya. Rasulullah bersabda:

لاصلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب

Artinya: “tidak ada sholat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul kitab.”[1]

Dan masih banyak keistimewaan lainnya yang akan dibahas pada pembahasan selanjutnya.

RUMUSAN MASALAH

  • Sekilas Tentang Surat Al-Fatihah
  • Bagaimana Tafsir Surat Al-Fatihah

PEMBAHASAN

  • Sekilas Tentang Surat Al-Fatihah

Surat Al-Fatihah termasuk surat makkiyah, karena diturunkan di makkah. Surat Al-Fatihah ini terdapat tujuh ayat, hal ini dikuatkan dengan kepopuleran surat Al-Fatihah dengan nama As-Sab Al-Matsany (tujuh ayat yang di ulang-ulang dalam shalat atau di ulang-ulang kandungannya dalam ayat-ayat Al-Qur’an lainnya). Sedangkan keterangan bahwa “Allah telah menurunkan kepada nabi “As-Sab ‘Al-Matsany” itu sendiri turun ketika nabi masih tinggal di makkah. Firman Allah SWT:

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَٰكَ سَبْعًا مِّنَ ٱلْمَثَانِى وَٱلْقُرْءَانَ ٱلْعَظِيمَ ﴿٨٧

“Dan Sesungguhnya kami Telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang  dan Al Quran yang agung.” (QS. AL Hijr : 87)

Yang dimaksud tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang ialah surat Al-Fatihah yang terdiri dari tujuh ayat. sebagian ahli tafsir mengatakan tujuh surat-surat yang panjang yaitu Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Maaidah, An-Nissa’, Al ‘Araaf, Al An’aam dan Al-Anfaal atau At-Taubah.

Surat Al-Fatihah mempunyai banyak nama, setiap nama memberi isyarat tentang fungsi atau ujuan turunnya, seperti berikut[2]:

  1. Al-Fatihah (pembuka yang sangat sempurna)

Sebagai isyarat bahwa ia adalah pembuka Al-Qur’an dan juga pembuka yang amat sempurna bagi segala kebajikan.

  1. Ummul Kitab (Induk Al-Qur’an)

Dinamakan Ummul Kitab karena penulisan dalam mushaf dan bacaan dalam sholat dimulai dengan Al-Fatihah. Menurut pendapat lain karena semua makna yang terkandung di dalam Al-Qur’an merujuk apa yang terkandung di dalamnya.[3]

  1. As-Syafiyah (penyembuh)

Disebut penyembuh karena dapat diambil keberkahannya untuk menyembuhkan segala macam penyakit.[4]

  1. Ar-Ruqyah (mantra)

Surat Al-Fatihah bila dibaca dapat mengantarkan kesembuhan dan dapat dijadikan mantra untuk segala persoalan.

  1. Al-Asas (Asas dan Dasar)

Surat Al-Fatihah merupakan asas dan dasar bagi segala perilaku terpuji di dunia dan akhirat.

  1. Al-Waqi’ah (Pemelihara)

Dengan surat Al-Fatihah seseorang akan mendapatkan pemeliharaaan Tuhan dari segala macam bencana.[5]

  1. Al-Hamdu (Pujian)

Surat Al-Fatihah berisi pujian kepada Allah.

  1. Al-Wafiyah (Yang Amat Sempurna)

Surat ini adalah surat yang menyeluruh dan amat sempurna

  1. As-Shalat (Permohonan)

Dinamakan demikian karena surat ini merupakan syarat syah shalat.

  1. Al-Kafiyah (yang mencakup)

Yahya Ibnu Abi Katsir berkata: “al-fatihah mencakup surat yang lainnya, sedangkan surat-surat yang lainnya tidak dapat mencakup Al-Fatihah. Sabda Rasulullah “Ummul Qur’an dapat menggantikan kedudukan surat-surat yang lain, tetapi surat-surat yang lain tidak dapat menggantikannya”.

  1. As-Sab’al Matsany (tujuh yang berulang-ulang)

Disebut demikian karena Al-Fatihah itu terdiri dari tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dalam shalat.[6]

  1. Al-Kanz (bekal)

Dinamakan demikian karena Al-Fatihah adalah bekal yang sangat berharga untuk masa depan.[7]

Apa yang tersimpul dalam surat Al-Fatihah akan diterangkan pada surat-surat kemudian. Oleh sebab itu surat Al-Fatihah ini dinamai dengan Ummul Kitab. Karena telah tersimpul di dalamnya segala isi Al-Qur’an, yaitu: (1) tauhid (keimanan), (2) janji kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi orang-orang yang menurut petunjuk Al-Qur’an dan janji siksaan jasmani atau rohani bagi orang-orang yang tidak menurut petunjuk itu, (3) amal ibadah untuk mempertebal tauhid dan membersihkan jiwa, (4) menerangkan jalan yang lurus untuk mencapai kebahagiaan, (5) riwayat orang-orang yang taat mengikuti Allah dan orang-orang yang durhaka untuk jadi I’tibar bagi umat yang kemudian dan lain-lain.[8]

 


 

  • Tafsir Surat Al-Fatihah

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ﴿١﴾ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ ﴿٢﴾ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ﴿٣﴾ مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ ﴿٤﴾ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾ ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ﴿٧

“[1] Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, [2] Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, [3] Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, [4] Pemilik hari pembalasan, [5] Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan, [6] Tunjukilah kami jalan yang lurus, [7] (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[9]

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

(Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)

الحمد لله جملة خبرية قصد بها الثناء على الله بمضمونها على أنه تعالى : مالك لجميع الحمد من الخلق آو مستحق لأن يحمدوه والله علم على المعبود بحق رب العالمين أي مالك جميع الخلق من الإنس والجن والملائكة والدواب وغيرهم وكل منها يطلق عليه عالم يقال عالم الإنس وعالم الجن إلى غير ذلك وغلب في جمعه بالياء والنون أولي العلم على غيرهم وهو من العلامة لأنه علامة على موجده

(Segala puji bagi Allah) Lafal ayat ini merupakan kalimat berita, dimaksud sebagai ungkapan pujian kepada Allah berikut pengertian yang terkandung di dalamnya, yaitu bahwa Allah Ta’ala adalah yang memiliki semua pujian yang diungkapkan oleh semua hamba-Nya. Atau makna yang dimaksud ialah bahwa Allah Taala itu adalah Zat yang harus mereka puji. Lafal Allah merupakan nama bagi Zat yang berhak untuk disembah. (Tuhan semesta alam) artinya Allah adalah yang memiliki pujian semua makhluk-Nya, yaitu terdiri dari manusia, jin, malaikat, hewan-hewan melata dan lain-lainnya. Masing-masing mereka disebut alam. Oleh karenanya ada alam manusia, alam jin dan lain sebagainya. Lafal ‘al-`aalamiin’ merupakan bentuk jamak dari lafal ‘`aalam’, yaitu dengan memakai huruf ya dan huruf nun untuk menekankan makhluk berakal/berilmu atas yang lainnya. Kata ‘aalam berasal dari kata `alaamah (tanda) mengingat ia adalah tanda bagi adanya yang menciptakannya.

الرحمن الرحيم أي ذي الرحمة وهي إرادة الخير لأهله

(Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) artinya yang mempunyai rahmat. Yaitu dia (rahmat) ialah menghendaki kebaikan bagi orang yang menerimanya.

مالك يوم الدين أي الجزاء وهو يوم القيامة وخص بالذكر لأنه لا ملك ظاهرا فيه لأحد إلا لله تعالى بدليل { لمن الملك اليوم ؟ لله } ومن قرأ مالك فمعناه مالك الأمر كله في يوم القيامة أو هو موصوف بذلك دائما كغافر الذنب فصح وقوعه صفة لمعرفة

(Yang menguasai hari pembalasan) di hari kiamat kelak. Lafal ‘yaumuddiin’ disebutkan secara khusus, karena di hari itu tiada seorang pun yang mempunyai kekuasaan, kecuali hanya Allah Taala semata, sesuai dengan firman Allah Taala yang menyatakan, “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini (hari kiamat)? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (Q.S. Al-Mukmin 16) Bagi orang yang membacanya ‘maaliki’ maknanya menjadi “Dia Yang memiliki semua perkara di hari kiamat”. Atau Dia adalah Zat yang memiliki sifat ini secara kekal, perihalnya sama dengan sifat-sifat-Nya yang lain, yaitu seperti ‘ghaafiruz dzanbi’ (Yang mengampuni dosa-dosa). Dengan demikian maka lafal ‘maaliki yaumiddiin’ ini sah menjadi sifat bagi Allah, karena sudah ma`rifah (dikenal).

إياك نعبد وإياك نستعين أي نخصك بالعبادة من توحيد وغيره ونطلب المعونة على العبادة وغيرها

(Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan) Artinya kami beribadah hanya kepada-Mu, seperti mengesakan dan lain-lainnya, dan kami memohon pertolongan hanya kepada-Mu dalam menghadapi semua hamba-Mu dan lain-lainnya.

اهدنا الصراط المستقيم أي أرشدنا إليه ويبدل منه

(Tunjukilah kami ke jalan yang lurus) Artinya bimbinglah kami ke jalan yang lurus, kemudian dijelaskan pada ayat berikutnya, yaitu:

صِرَاطَ الذين أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ بالهداية ويبدل من الذين بصلته غَيْرِ المغضوب عَلَيْهِمْ وهم اليهود وَلاَ وغير الضالين وهم النصارى ونكتة البدل إفادة أن المهتدين ليسوا يهوداً ولا نصارى والله أعلم بالصواب، وإليه المرجع والمآب وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا دائما أبدا، وحسبنا الله ونعم الوكيل، ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

(Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka), yaitu melalui petunjuk dan hidayah-Mu. Kemudian diperjelas lagi maknanya oleh ayat berikut: (Bukan (jalan) mereka yang dimurkai) Yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi. (Dan bukan pula) dan selain (mereka yang sesat.) Yang dimaksud adalah orang-orang Kristen.

Faedah adanya penjelasan tersebut tadi mempunyai pengertian bahwa orang-orang yang mendapat hidayah itu bukanlah orang-orang Yahudi dan bukan pula orang-orang Kristen. Hanya Allahlah Yang Maha Mengetahui dan hanya kepada-Nyalah dikembalikan segala sesuatu. Semoga selawat dan salam-Nya dicurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. beserta keluarga dan para sahabatnya, selawat dan salam yang banyak untuk selamanya. Cukuplah bagi kita Allah sebagai penolong dan Dialah sebaik-baik penolong. Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan hanya berkat pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.[10]

Hadits Qudsi : Keutamaan Surat Al-Fatihah

عَنْ أبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قاَلَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  يَقُوْلُ :قاَلَ اللهُ تعَالىَ : قَسَّمْتُ  الصَّلاَةَ بَيْنىِ وَبَيْنَ عَبْدِى  نِصْفَيْنِ وَ لِعَبْدِى مَا سَألَ . وَفِى رِوَايَةٍ : فَنِصْفُهَا لِى وَنِصْفُهاَ لِعَبْدِى .  فَاِذَا قَالَ العَبْدُ:  الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمَيِن  قاَلَ اللهُ : حَمَدَنِى عَبْدِى . فَاذَا قاَلَ : الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ : قَالَ : أثنىَ عَلَىَّ عَبْدِى . فاَذاَ قاَلَ : مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ  قاَلَ : مَجَّدَنىِ عَبْدِى . فاَذاَ قاَلَ : اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ اِيَّاكَ  نَسْتَعِيْنُ  قاَلَ : هَذاَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَألَ . فَاذاَ قاَلَ : اِهْدِناَ الصِّراَطَ المُسْتَقِيْمَ  صِرَاطَ الَّذِيْنَ  أنعَمْتَ عَلَيْهِمْ  غَيْرِ المَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ  قاَلَ : هَذاَ لِعَبْدِى  وَلِعَبْدِى مَا سَألَ”. رَوَاهُ الامَام ُمُسْلِم .

Diriwayatkan oleh  Abu Hurairah RA bahwa  Rasulullah saw bersabda : Allah SWT berfirman : “Aku membagi shalat (yakni al-Fatihah) antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan untuk hamba-Ku apa yang dimohonnya. Apabila hamba-Ku berkata   “Alhamdulillah Rabbil ‘Alamin”, Allah menyambut dengan berfirman  “Hamadani ‘Abdi” (“Aku dipuja oleh hamba-Ku”). Apabila dia membaca “Al-Rahman Al-Rahim”, Allah berfirman “Atsna ‘Alayya ‘Abdi” (“Aku dipuji oleh hamba-Ku”). Apabila dia membaca “Maliki Yawmid Din”, Allah berfirman : “Majjadani ‘Abdi” (“Aku diagungkan oleh hamba-Ku”). Dan apabila ia membaca : “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in”, maka Allah berfiman : “Hadza bayni wa bayna ‘abdi, wa li’abdi ma sa’ala”, (“Ini adalah antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku segala sesuatu yang dimohon (kepada-Ku)”. Dan apabila ia berkata : “Ihdina al-shirath al-mustaqim, Shirat al-ladzina an’amta ‘alayhim ghayr al-maghdhubi ‘alayhim wala al-dhallin”, maka Allah berfirman: “Hadza li ‘abdi wa li’abdi ma sa’ala” (“Ini adalah bagi hamba-Ku. Bagi hamba-Ku segala sesuatu yang dimohon kepada-Ku”).[11]

Demikian hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sahabat Abu Hurairah ra. (radhiyallahu ‘anhu, semoga Allah SWT memberi ridha kepadanya).

Al-Fatihah Dengan Bahasa Arab

Ada satu saran yang amat berbahaya di jaman-jaman akhir ini, yaitu membaca bacaan sembahyang dengan bahasa Indonesia.. Katanya karena mempertahankan bahasa nasional. Kalau saran itu berjalan, terancamlah kita oleh bahaya rohani yang besar sekali, yaitu : kita terputus dari pangkalan agama kita, dari keasliannya yang diterima dari “Nabi Muhammad s.a.w.. Kecintaan kita kepada bahasa dan bangsa kita bukanlah berarti merusakkan pusaka akidah dan kepercayaan yang telah kita anut. Di antara hidup kita sebagai orang Islam tidaklah dapat dicerai-tanggalkan dari al-Qur’an. Kata-kata yang menyarankan sembahyang dengan bahasa nasional itu dengan tidak disadari adalah sisa-sisa peninggalan penjajahan yang 350 tahun lamanya mencoba merubah cara kita berpikir.

Di dalam bangsa penjajah mencoba menghilangkan pengaruh bahasa Arab itu, penjajah berusaha keras memasukkan bahasanya sendiri. Sampai saat sekarang ini (1965), sudah 20 tahun kita mencapai kemerdekaan bangsa, masih ada orang yang sukar berbicara dalam bahasa nasionalnya dan lebih gampang lidahnya berbicara dalam bahasa Belanda. Padahal pramasastra dan tatabahasa kita yang berpokok pangkal dari bahasa Melayu lebih berdekat dengan bahasa Arab daripada dengan bahasa Belanda. Kalau kita dalam bahasa kita menyebut nama negeri Bukuttinggi, bukan High Moutain yang kalau diartikan ke bahasa kita menjadi Tinggi Bukit. Kalau kita menyebut dalam bahasa kita Rumahku dalam bahasa Arabnyapun disebut Baiti, yang artinya rumahku juga, bukan Mijn Huis, yang berati Saya Rumah, atau aku rumah, sehingga untuk lebih dipahami terpaksa ditambah mnejadi saya empunya rumah.

Meskipun berangkali kita bangsa-bangsa Indonesia terkernudian memeluk Islam dari bangsa Persia dan bangsa Turki, namun lidah bangsa kita di dalam mengucapkan bahasa Arab, tidaklah kalah dengan lidah mereka, malahan kadang-kadang lidah bangsa kita lebih fasih. Ini diakui oleh bangsa Arab sendiri. Namun begitu dari bangsa ­bangsa itu tidak ada percobaan hendak menukar bacaan sembahyangnya dengan bahasa mereka sendiri. Di satu masa ada gerakan Syu’ubiyah namanya di Persia, yaitu kira-kira pada abad ke tiga dan empat Hijriyah, yang maksudnya hendak memungkiri kelebihan bangsa Arab dari pada bangsa-bangsa yang lain, yang tergabung dalam Islam. Namun tidak ada gerakan hendak menukar bacaan sebahyang bahasa Arab itu ke dalam bahasa Persia. Memang ada seorang Imam besar Islam, Imam Hanafi pernah menyatakan Ijtihad, bahwa tidak mengapa jika orang yang baru masuk Islam belum sanggup membaca al-Fatihah dalam bahasa Arabnya , sebelum dapat dan lafadz kata beliau bolehlah sementara dia memakai bahasa Per­sia.

Tetapi Fatwa beliau itu tidak mendapat sambutan, malahan murid-murid mengatakan pendapat yang membantah pendapat itu. Lebih baik diam mendengar imam membaca, sebelum pandai membacanya, daripada membacanya dengan bahasa lain, yang bukan bahasa aslinya. Sedangkan menukar lafadz al-Fatihah, meskipun dalam bahasa Arab juga, lagi tidak sah, apatah lagi menukarnya dengan bahasa lain. Dan sudah sepakat ahli-ahli penyelidik bahwa satu bahasa kalau telah dipindahkan ke bahasa lain, tidak lagi tepat menurut maknanya.

Karena siasat hendak memisahkan diri dari pengaruh Arab, Musthafa Kemal Attaturk pernah memerintahkan menerjemah Adzan ke bahasa Turki. Tetapi setelah dia mati, dikembalikan orang ke bahasa Arab karena dengan diterjemah itu telah hilang sari dan mengaruhnya.

Dan setelah Partai Demokrasi Jalal Bayar mengadakan kampanye pemilihan umum melawan Partai Republik pusaka Kemal Attaturk, janjinya hendak mengembalikan azan ke bahasa Arab itulah yang menyebabkan kemenangannya. Sebab meskipun sudah sekian puluh tahun Partai Republik berkuasa yang beusaha hendak men­Turkikan segala yang dipandang berbau Arab, rupanya masih tetap sebagai minyak dengan air saja hubungan dengan Rakyat yang masih beragama, yang masih mengmbil kekuatan jiwanya dari al-Qur’an.

Oleh sebab itu tetaplah baca al-Fatihah dalam setiap rakaat sembahyang dalam bahasa aslinya, dalam bahasanya yang diterima dari Nabi s.a.w.. Pelajari bacaanya itu kepada yang ahli mempergunakan hurup-hurupnya menurut tajwidnya (pronounciation) yang betul. Dan dalam hukum agama, nyatalah bahwa mempelajari bacaan al-Fatihah dan mengetahui artinya dalam fardhu `ain, wajib bagi tiap-tiap muslim. Dan saran yang hendak membaca saja terjemahnya itu bukan lagi dari berpikir secara Islam, melainkan dengan tidak disadari telah kemasukan pikiran orang lain yang hendak meruntuhkan Islam.

Kalau kita merasa berat menerima pendapat Imam Syafi’i r.a. yang mengatakan wajib bagi setiap muslim mengetahui bahasa Arab, namun di dalam melakukan sembahyang dengan segala bacaanya dan khusus mengenai bacaan al-Fatihah, berpikir secara Islam yang sehat pasti menerima apa yang dikatankan Imam Syafi’i itu. Betapa tidak ! Sedang sembahyang adalah tiang agama.

Dalam sembahyang kita menghadapkan wajah hati kita kepada Tuhan, mengemukakan segala puji-pujian dan permohonan sebagai yang tersebut di dalam al-Fatihah itu. Dan hendaklah sembahyang itu kita kerjakan dengan khusyu merendahkan diri. Bagaimana khusyu akan tercapai kalau kita tidak mengerti apa yang kita katakan ? Bagaimana sembahyang akan menajdi tiang agama, kalau kita mengerjakannya hanya karena keturunan saja ? Bukan dari keinsyafan ?

Oleh sebab itu hendaklah dalam rumah tangga Islam, Ayah dan Bunda mengajar anaknya sedari kecil membaca al-Qur’an. Sekurang ­kurangnya buat pertama kali ialah diajarkan al-Fatihah, supaya dapat dipakainya untuk sembahyang. Kalau ada orang mengatakan bahwa belajar al-Fatihah itu sukar, maka yang berkata begitu orang yang hatinya telah jauh dari Islam. Sebab sejak agama Islam rnenjadi anutan bangsa kita seribu tahun yang lalu, di Indonesia dengan seluruh kepulauan ini orang telah membaca al-Fatihah, tidak ada yang mengatakan sukar. Lidah anak hendaklah difasihkan sejak kecilnya. Kalau orang tua tidak sanggup mengajarnya, panggilah guru ke rumah.

Kalau seorang tidak juga pandai membaca al-Fatihah, maka Nabi s.a.w tidak juga ada mengajarkan atau membolehkan bacaan lain. Menurut sebuah hadits yang dirawikan oleh Abu Daud, an-Nasal’, Imam Ahmad, Ibnul Jarud, Tbnu Hibban dan ad-Daruquthni :

Bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Nabi s. a. w lalu berkata : Sesungguhnya aku tidak sanggup mengambil bacaan dari al-Qur’an walaupun sedikit. Oleh sebab itu ajarkanlah kepadaku sesuatu bacaan yang akan dapat memberi pahala bagiku pada sembahyangku. Maka berkatalah beliau : Bacalah Subhanallah, Alhamdulillah, La Ilaha Illallah, Allahu Akbar, La Haula wala Quwwata illa Billahi “.

Hadits ini menunjukkan, bahwa kalaupun tidakpandai membaca al-Fatihah, rnaka untuk menggantinya tidak boleh dengan ucapan lain, melainkan dzikir-dzikir yang tersebut itu. Namun sernbahyang dengan bahasa yang lain tidak juga boleh.

Oleh sebab itu telah termasuk ibadat, tidaklah boleh lagi kita tukar daripada apa yang diajarkan oleh Nabi. Dan kalau al-Fatihah tidak pandai dan dzikir-dzikir yang tersebut itupun tidak pandai, bolehlah mengikut Iman dengan mendengarkan bacaan Imam, sebagaimana telah dibukakan pahamnya oleh ijtihad yang kita sebutkan tadi. Tegasnya, lebih balk berdiam diri mendengarkan imam marribaca, daripada mengerjakan sembahyang dengan bahasa yang lain, atau dengan terjemahan al-Fatihah. Sebab terjernahan itu tidak jugalah akan tepat seratus persen dengan kehendak isi aslinya.

Ini mungkin dan bisa kejadian pada seorang Muallaf yang baru masuk Islam, yang sesudah dia mengucapkan dua kalimah syahadat, dia sudah wajib sembahyang, padahal dia belum tahu baik zikir atau al-Fatihah. Dalam pada itu ia wajib belajar sehingga tidaklah lama dia hanya mendengar saja.

Kesimpulan, Renungkanlah pengertian al-Fatihah sebaik -baiknya, niscaya akan terasa bahwa dia bukan semata-mata bacaan untuk ibadat, tetapi mengandung juga bimbingan untuk membentuk pandangan hidup muslim. Mula-mula dipusatkan seluruh kepercayaan kepada Allah dengan sifatNya Yang Maha Pemurah darl Penyayang, disertai dengan KeadilanNya yang berlaku sejak dari dunia lalu ke negeri akhirat. Dan bila kita renungkan pula pengertian dan pengakuan kita, bahwa yang kita sembah hanya Dia dan tempat kita memohonkan sesuatu hanya Dia. Sampailah kita kepada Islam yang sejati. Setelah kita akui bahwa hanya Dia yang kita sembah, baruiah kita. mengajukan perrnohonan. Jangan sampai terbalik, sebagai kebanyakan orang-orang ghafil, yang lebih dahulu memohon dan kemudian baru beribadah.

Sesudah pengakuan yang demikian, kita kemukakan permohonan yang pertama dan utama, yaitu meminta ditujuki jalan yang lurus. Maka tidaklah kita meminta kepada Tuhan agar diberi benda, diberi roti buat makanan hari ini, sebagaimana bacaan sembahyang orang Kristen. Karena apabila mengenal (ma’rifat) kita kepada Tuhan telah mendalam, tidaklah kita mengemukakan permohonan yang kecil-kecil dan remeh itu lagi, melainkan kita minta yang pokok, yaitu jalan lurus dalam menempuh hidup, dan apabila permohonan itu telah kita iringi supaya dikaruniai jalan yang dinikrnati, timbullah pada kita cita-cita yang tinggi di dalam martabat iman, setaraf dengan kehidupan Rasul­rasul, Nabi-nabi, Syuhada dan Shalihin. Bahkan di dalam surat al­furQan (Surat 25 ayat 74) kita disuruh berdo’a yang jangan tanggung­tanggung jangan halang kepalang.

Dan dengan sendirinya, bila al-Fatihah kita renungkan dapatlah kita pahamkan bahwasanya yang kita pegang di dalam hidup ini ialah dua tali. Pertama tali dengan Allah, kedua tall dengan Alam, termasuk manusia sebagai alam yang lebih penting dan kita termasuk pula di dalamnya.

Al-Fatihah inilah yang kita ulang-ulang membacanya setiap hari, sekurang-kurangnya 17 kali sehari semalam. Moga-moga selain dari dia menjadi Fatihatul kitab, pembukaan dari al-Qur’an, diapun akan membuka hati sanubari kita sendiri, sehingga hilanglah segala ragu­ragu dan terbukalah pintu Hidayat, sehingga dia menjadi dasar persediaan bagi kita buat mengenal lagi seluruh isi al-Qur’an yang mengandung 6.236 ayat itu.

Kita misalkanlah sembahyang lima waktu, yang terdiri daripada 17 raka’at, sebagai menghadap Tuhan yang routine, yang wajib dilakukan dengan berkala. Bagaimanakah lagi kesannya ke dalam jiwa kita, bila kita ikuti lagi dengan Shalat Nawafil, sembahyang sunat ? Sembahyang Sunat Nawafil disediakan Tuhan, dengan perantaraan RasulNya, untuk orang yang merasa belum puas dengan pertemuan “resmi” saja. Pertemuan di luar “dinas” kadang-kadang lebih mesra daripada pextemuan yang “routine”.

Dimulai segala sembahyang itu dengan Allahu Akbar, artinya dibulatkczn ingatan kepada Tuhan, dan diakhiri dengan Assalamu’alaikum. artinya kita kembali lagi ke dalam masyarakat dan intinya ialah al-Fatihah.

Bertali dengan ketentuan agama bahwasanya sembahyang lima waktu, sembahyang Jum’at, sernbahyang dua Hari Raya dan sembahyang dua gerhana, dianjurkan sangat supaya berjama’ah. Jama’ah kecil-kecilan di antara keluarga di rumah , jamaah sekampung atau selorong di dalam sebuah surau kecil kepunyaan kampung. Jama’ah lebih besar sekali Jum’at, di dalam sebuah Masjid Jam’, jama’ah dua Hari Raya, jama’ah gerhana bulan dan matahari dan jama’ah memohon hujan (istisqaa). Dan jama’ah besar dan agung, sekurang-kurangnya sekali seumur hidup dengan wuquf di Arafah waktu Haji. Semua jama’ah ini membuat seorang muslim menjadi anggota masyarakat yang aktif, sehingga terbentuklah masyarakat Is­lam, ukhuwah Islarniyah dan Mu’awanah `alal birri wat-taqwa. Semuanya sama bacaanya yaitu surat al-Fatihah.

Dan di dalam jama’ah itupun dididik hidup yang berdisplin. Jama’ah mempunyai imam dan yang selebihnya menjadi makmum. Bahkan di jaman nabi dan sahabat-sahabatnya, imam sembahyang berjamaah ialah Nabi, Khalifah-Khalifah, Gubernur (Wali) di tiap­tiap negeri. Tidak boleh seorang makmum mendahului mengangkat kepalanya seketika ruku dan sujud sebelum imam. Sampai ada hadits mengatakan bahwa barangsiapa yang mengangkat kepalanya terdahulu daripada imam rnengangkat kepala, maka kapalanya itu akan berganti menjadi kepala keledai.

Al-Fatihahpun mendidik kita memakai adab sopan-santun yang tertinggi. Adab sopan-santun yang tinggi itu dimulai terhadap kepada Tuhan akan membawa kesannya pula kepada sikap hidup kita dalam masyarakat. perhatikanlah susunan ayat yang tujuh itu.

Pada ayat pertama “Bismillahir-Rahmanir-Rahim”, kita memujikan sifat Rahman dan RahimNya. Sesudah itu pada ayat kedua “Alhamdulillahi Rabbil `Alamin” kita puji Dia, kita sanjung Dia, sebab Dia yang menjadikan alam ini tempat kita hidup. Pada ayat ketiga kita ulang lagi menyebut sifat Rahman dan RahimNya itu. Di ayat keempat “Maliki Yaumiddin”, kita mengakui bahwa kekuasaanNya itu bukan meliputi hari sekarang saja, bahkan berlanjut lagi kepada yang diseberang hidup ini. Setelah selesai kita akui segala

Rahman dan Rahim, segala puji dan kekuasaan dunia akhirat hanya Dia yang empunya, tidak ada dicampuri yang lain, barulah kita menunjukkan sikap hidup pada ayat kelima “Iyyaka Na’budu waiyyaka Nasta’in”.

Oleh sebab itu kita menyembah-Nya adalah dengan kesadaran bahwa hanya Dia yang patut disembah. dan memohon pertolongan kepadaNya, karena memang hanya Dialah yang sanggup mengabulkan segala permohonan.

Sesudah pengakuan ini barulah kita langsung saja mengemukakan permohonan, sebelum kita mengenal atau menyebut tuah kebesaran dari tempat kita memohon itu. Adalah sangat tidak sopan orang langsung saja mengemukakan satu keinginan, sebelum dengan tulus ikhlas dia mengakui kemulian dari pada tempatnya memohon.

Kita mempunyai nyawa atau roh, dan roh itupun hendaklah dijiwai pula. Agama Islam adalah suatu agama yang menjadi roh dari roh kita. Tidak beragama sama artinya dengan mati, walaupun kita masih hidup. Dan al-Fatihah adalah isinya yang utama, sehingga dengan memahamkannya kita dapat mencapai hakikat hidup.[12]

[1] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Ter. As’ad Yasin dkk., (Jakarta: Gema Insani, 2000), hlm. 25

[2] Muhammad Quraish Shihab, Tafsir Al-Qur’an Al-Karim,Tafsir Atas Surat-Surat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu,  (Bandung: Pustaka Hidayah, 1997 ), Cet 2, hlm. 6-7

[3] Muhammad Amin Aziz, Kedahsyatan Al-Fatihah, (Semarang: Pustaka Nuun, 2008), hlm. 156

[4] Salimuddin, Tafsir Al-Jami’ah, (Bandung: Penebit Pustaka, 1990), hlm. 30

[5] Muhammad Quraish Shihab, loc.cit.

[6] Salimuddin, Op.cit, hlm 192

[7] Mahmud Yunus, Tafsir Qur’an Karim, (Jakarta: PT Hida Karya agung, 2004), hlm. 5

[8] Abudin Nata, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan (Tafsir al Ayat at tarbawi), (Jakarta; Raja Grafindo Persada, 2002), hlm.11-13

[9] Ahmad Lutfi Fathullah,. Dr,. MA. Al-Qur’an Al-HadiV1.1, 11 Kemudahan Berinteraksi Dengan Al-Qur’an, Pusat Kajian Hadits, Al-Mughni Islamic Center, Mei 2008.

[10] Tafsir Surat Al-Fatihah, Tafsir Jalalain dan Terjemahan, Imam Jalaluddin As-Suyuti & Imam Jalaluddin Al-Mahaly

[11] http://seputar-surat-al-fatihah/psq

[12] Buya Hamka, Tafsir Al-Fatihah, Tatsir Al-Azhar

FILSAFAT ISLAM

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr. Wb.

Segala puji dan syukur hanya untuk Allah, karena dengan taufik dan hidayah_Nya dapatlah diselesaikan makalah tugas mata kuliah Filsafat Islam. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan alam, Nabi Muhammad saw. Sebagai pembawa risalah untuk semesta alam.

Pada kesempatan ini penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendorong hingga selesainya makalah ini. Penulis hanya dapat bermohon kepada Allah SWT kiranya dapat membalas semua pihak telah membantu selama pembuatan makalah ini, dengan balasan yang berlipat ganda, dan selalu mencurahkan rahmat_Nya kepada mereka semua.

Akhirnya penulis berharap makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Kemudian dengan penuh kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran konstruktip guna perbaikan makalah ini.

Serang,

Penulis

DAFTAR ISI

  • KATA PENGANTAR
  • DAFTAR ISI
  • BAB I PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
  2. Rumusan Masalah
  3. Tujuan
  • BAB II PEMBAHASAN
  • Biografi Al-Suhrawardi
  • Karya-karya Al-Suhrawardi
  • Pemikiran Suhrawardi : Filsafat Iluminasi
  • BAB III PENUTUP
  • Kesimpulan
  • DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Filsafat Islam merupakan suatu ilmu yang masih diperdebatkan pengertian dan cakupannya oleh para ahli. Akan tetapi di sini penulis cendenrung condong kepada pendapat yang mengatakan bahwa Filsafat Islam itu memang ada dan terbukti exis sampai sekarang. Dalam dunia filsafat terdapat dua aliran besar yaitu aliran peripatetis dan iluminasi. Mengerti dan mengetahui kedua aliran ini adalah hal yang sangat penting ketika kita ingin mengkaji filsafat, karena semua filsuf khususnya muslim pada akhirnya merujuk dan berkaitan kepada dua aliran ini. Aliran peripatetis merupakan aliran yang pada umumnya diikuti oleh kebanyakan filsuf, sedangkan aliran iluminasi di sini merupakan tandingan bagi aliran peripatetis. Aliran iluminasi ini dipelpori oleh seorang tokoh filsuf muslim yaitu Suhrawardi al Maqtul yang dikenal juga dengan sebutan bapak iluminasi.

Suhrawardi dikenal dalam kajian Filsafat Islam karena kontribusinya yang sangat besar dalam mencetuskan aliran iluminasi sebagai tandingan aliran peripatetis dalam filsafat, walaupun dia masih dipengaruhi oleh para filsuf barat sebelumnya. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena sebagian atau bahkan keseluruhan bangunan Filsafat Islam ini dikatakan kelanjutan dari filsafat barat yaitu Yunani.

Hal pemikiran Suhrawardi dalam filsafat yang paling menonjol adalah usahanya untuk menciptakan ikatan antara tasawuf dan filsafat. Dia juga terkait erat dengan pemikiran filsuf sebelumnya seperti Abu Yazid al Busthami dan al Hallaj, yang jika dirunrut ke atas mewarisi ajaran Hermes, Phitagoras, Plato, Aristoteles, Neo Platonisme, Zoroaster dan filsuf-filsuf Mesir kuno. Kenyataan ini secara tidak langsung mengindikasikan ketokohan dan pemikirannya dalam filsafat.

  1. RUMUAN MASALAH
  • Siapakah tokoh filsafat iluminasi ?
  • Apa karya-karyanya ?
  • Bagaimanakah pemikiran Suhrawardi : Filsafat Iluminasi ?
  1. TUJUAN
  • Mengenal dan mengetahui biografi al-Suhrawardi
  • Mengetahui karya-karya al-Suhrawardi
  • Menjelaskan pekikiran Suhrawardi mengenai filsafat iluminasi

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. BIOGRAFI AL-SUHRAWARDI

Nama lengkapnya adalah Syihabuddin Yahya Ibn Amirak Abu Al-Futuh Suhrawardi. Lahir pada tahun 549 H/1153 M di Suhraward, sebuah kampung dikawasan Jibal, Iran Barat Laut dekat Zanjan.  Ia memiliki sejumlah gelar “Shaikh al-Ishraq (Guru besar Filsafat Pencerahan), Master of Illuminationist, Al-Hakim, Ash-Shahid, The Martyl,dan Al-Maqtul (gelar sesudah wafat yang berarti “orang yang terbunuh”).

Di ceritakan bahwa, salah satu peristiwa yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Suhrawardi ialah saat kematiannya. As – Suhrawardi dijuluki Al – Maqtul (yang terbunuh) ialah karena ia dibunuh oleh penguasa karena beralasan bahwa ajarannya dianggap sesat. Di tengah kemasyhurannya sebagai ulama tasawuf dan cendikiawan, pendapat – pendapatnya sering memancing kontroversi. Seperti pandangan – pandangan Al – Hallaj maupun Junaidi Al-Baghdadi, pendapat Suhrawardi dianggap menyimpang sehingga memancing polemic yang berkepanjangan. Ia meninggal di tiang gantungan dalam sebuah upacara pengadilan yang digelar oleh Sultan Salahuddin Al – Ayyubi dari Dinasti Bani Saljuk. Sebelum diadili ia dipanggil oleh pangeran Zahir bin Salahuddin Al – Ayyubi untuk mempertanggung jawabkan ajarannya dalam forum debat terbuka yang dihadiri oleh Teolog dan Fuqaha, dalam debat itu ia berhasil mempertahankan argumentasinya, sehingga pangeran Zahir pun memaafkannya, bahkan belakangan bersahabat dengannya, tapi akibatnya hal itu memancing rasa iri dan dengki. Maka berseliweranlah fitnah dan hasutan ke alamat Suhrawardi. Bahkan ada yang sempat mengirim surat ke Sultan Salahuddin Al – Ayyubi yang memperingatkan perihal “kesesatan” ajaran Suhrawardi, dan celakanya Sang Sultan malah memerintahkan Pangeran Zahir putranya, agar menghukum Suhrawardi. Zahir segera menggelar sidang, membicarakan hukuman bagi sang sufi, dan keputusan pun jatuh; Suhrawardi di jatuhi hukuman pancung. Itu terjadi pada tahun 587 H/ 1167 M, ketika Suhrawardi berumur 38 tahun. Mungkin karena ia korban persengkokolan politik, sampai makamnya pun tidak diketahui. Tetapi, karena hukuman itu nama Suhrawardi menjadi semakin melejit, masyarakat menggelarinya dengan sebutan Al – Maqtul (tokoh yang terbunuh). Ia memang telah terbunuh, jasadnya telah dibuang, tetapi pikiran – pikirannya yang cemerlang tetap hidup hingga kini Bahkan sepanjang zaman.

Suhrawardi terkenal sebagai perantau, penuntut ilmu, wilayah pertama yang ia kunjungi adalah Maragha yang berada dikawasan Azerbeijan. Di kota ini ia belajar filsafat, hukum dan teologi kepada Majd Al-Din Al-Jili, kemudian berlanjut ke Isfahan, dia belajar kepada Ibn Sahlan Al-Sawi, penyusun kitab Al-Basa’ir Al-Nasiriyyah tentang logika.  Kemudian Suhrawardi pergi ke Aleppo untuk berguru kepada Syafir IfkharAl-Din, dari kota inilah Suhrawardi terkenal.

Saat di Aleppo, Suhrawardi yang masih dalam usia belia tertarik kepada ajaran tasawuf dan akhirnya menekuni mistisisme. Dalam hal ini Suhrawardi tidak hanya mempelajari teori-teori dan metode-metode untuk menjadi sufi, tetapi sekaligus mempraktekannya sebagai sufi sejati. Dia menjadi seorang zahid yang menjalani hidupnya dengan ibadah, merenung, kontemplasi, dan berfilsafat. Dengan pola hidup seperti ini akhirnya dalam diri Suhrawardi terkumpul dua keahlian sekaligus, yakni filsafat dan tasawuf. Dengan demikian, ia dapat dikatakan sebagai seorang filosof sekaligus sufi.

Pada abad ke-6 H/ke-12 M, Suhrawardi melakukan kritik terhadap beberapa ajaran dasar parepatetisme. Dialah yang meletakkan dasar-dasar bagi filsafat iluminasionis yang bersifat mistis (Hikmat Al-Isyraq), yang kemudian memperoleh sejumlah pengikut.

Madzhab filsafat ini muncul dalam rangka merespon dan mengkritisi sejumlah gagasan Aristotelianisme yang dianggap menyimpang, khususnya sebagaimana yang tercermin dalam filsafat Ibnu Sina. Kalangan iluminasionis mengembangkan sebuah pandangan tentang realitas dimana esensi lebih penting (mendasar) ketimbang eksistensi.

  1. KARYA-KARYA AL-SUHRAWARDI

Dalam waktu singkat, yakni kurang dari tiga puluh enam tahun, Suhrawardi telah menulis lebih dari 36 buku. Dia menulis buku-buku tersebut dengan susah payah dan sangat indah jika ditinjau dari sudut kesusastraan.

Karya Suhrawardi ditulis dalam bahasa Arab dan Persi dengan penulisan yang sangat jelas dan menarik. Hal ini menunjukkan kemampuan intelektualnya dan pemikiran tinggi yang dianugerahkan Allah kepadanya.

Buku-bukunya antara lain Hikmatul Isyraq, Matarahat, Talwihat, Hikmatul Isyraq, Alwahul Amadiyah, Ilahakul Nuriya, al-Maqalat, Bustanul Qulub, al-Bariqatul Ilahiyah, Lawame-ul-Anwar, ‘itiqatadatul Hikmah, Rishalatul Isyiq,Risalah fi Jillatul Tafwiliyyah, Risalah Aqle Surkh, Rozi ba Jamat-e-Sufiya, Aawaz Pare Jibraeel, Partu Nama Yazdan Shinakht, Safir Simurgh, Bakht-e-Moran, Rishalatul Thayr, Dawatul Kawakib, Alwahul Farsiya, Ilaihul Farsiya, al-Wardatul Ilahiyah, Tauraqul Anwar, al-Naghmatul Samawiyah, dan lainnya.

  1. PEMIKIRAN SUHRAWARDI : FILSAFAT ILUMINASI

Isyraq dalam bahasa Arab berarti sama dengan kata iluminasi dan sekaligus juga cahaya pertama pada saat pagi hari seperti cahayanya dari timur (shark). Tegasnya, isyraqi berkaitan dengan kebenderangan atau cahaya yang umumnya digunakan sebagai lambang kekuatan, kebahagiaan, keterangan, dan lain-lain yang membahagiakan. Lawannya adalah kegelapan yang dijadikan lambang keburukan, kesusahan, kerendahan  dan semua yang membuat manusia menderita. Timur tidak hanya berarti secara geografis tetapi awal cahaya, realitas.

Dalam kerangka filsafat iluminasinya, pembicaraan tentang wujud tidak dapat dipisahkan dari sifat dan penggambaran cahaya. Cahaya tidak bersifat material dan juga tidak dapat di definisikan. Sebagai realitas yang meliputi segala sesuatu, cahaya menembus kedalam susunan setiap entitas, baik yang fisik maupun nonfisik, sebagai komponen yang esensial dari cahaya. Sifat cahaya telah nyata pada dirinya sendiri. Ia ada, karena ketiadaannya merupakan kegelapan. Segala sesuatu berasal dari cahaya yang berasal dari cahaya segala cahaya (nur al-Anwar). Jika tanpa cahaya semua menjadi kegelapan yang diidentifikasikan non eksistensi (‘adam). Selanjutnya “cahaya segala cahaya” disamakan dengan “Tuhan”.

Bagi Suhrawardi realitas dibagi atas tipe cahaya dan kegelapan. Realitas terdiri dari tingkatan-tingkatan cahaya dan kegelapan. Keseluruhan alam adalah tingkatan-tingkatan penyinaran dan tumpahan cahaya pertama yang bersinar dimana-mana, sementara ia tetap tidak bergerak dan sama tiap waktu. Sebagaimana term yang digunakan oleh Suhrawardi, cahaya yang ditopang oleh dirinya sendiri  disebut nur al-Mujarrad. Jika cahaya bergantung pada sesuatu yang lain disebut nur al-‘ardi.

Manusia mempunyai kemampuan untuk menerima cahaya peringkat tertinggi lebih sempurna dibandingkan binatang dan tumbuhan. Manusia adalah alam shagir (mikro kosmos) yang didalam dirinya mengandung citra alam yang sempurna dan tubuhnya membuka pintu bagi semua kejismian. Tubuh ini selanjutnya merupakan sarana bagi cahaya yang bersinar diatas semua unsur tubuh dan menyinari daya khayal (imajinasi) dan ingatan. Cahaya ini dihubungkan dengan tubuh oleh jiwa hewani, yang bertempat di jantung, dan meninggalkan badan pergi ketempatnya yang asal, yaitu alam malakut (kerajaan besar, kekuasaan), apabila badan telah hancur dan kembali kepada unsur-unsur jasmaninya. Kemudian muncul pertanyaan “Bagaimana manusia dapat memiliki kehendak ?. Menurut Suhrawardi, yang mendorong manusia berkehendak ialah cinta. Kalau kehendak terlalu menguasai jiwa maka tumbuhlah amarah. Secara umum filsafat iluminasi yang diwakili oleh Suhrawardi dalam metafisikanya selalu disimbolkan dengan “cahaya”.

Dalam bidang metafisika suhrawardi merupakan orang pertama dalam sejarah yang menegaskan perbedaan dua corak metafisika yang kelas, yaitu metafisika umum dan metafisika khusus. Salah satu ciri kekaidahan dan struktural filsafat isyraqiyyah dalam bidang metafisika yang menonjol adalah dalam hal wujud dan esensi (mahiyah). Filsafat Suhrawardi merupakan titik balik sejarah filsafat islam, yaitu sebagai suatu upaya sangat serius dalam mendekatkan mistisisme dengan filsafat rasional. Metodologi yang dibangunnya mendamaikan nalar diskursif dan intuisi intelektual yang dikemudian hari menjadi landasan filsafat islam.

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Sebuah kesimpulan dari sedikit uraian tentang al-Suhrawardi diatas, kita semakin mengetahui bahwa dia adalah seorang tokoh filsuf muslim besar yang membangun aliran iluminasi sebagai tandingan dari aliran peripatetik yang terlebih dahulu mendahuluinya. Hal ini dilakukan al-Suhrawardi dalam rangka memadukan antara ajaran tasawuf dengan filsafat. Pandangan dia bahwa pengetahuan itu bukan hanya diperoleh dari hasil akal semata, akan tetapi dari rasa (dzauq) yang awalnya ditempuh dengan jalan mujahadah dan musyahadah.

DAFTAR PUSTAKA

  • Ali Dawani, Islamic Idol, Jakarta : Al-Huda, 2009
  • Ayi Sofyan, Kapita Selekta Filsafat, Bandung : Pustaka Setia, 2010, Cet. 1
  • Bachruddin Rifa’I dan Hasan Mud’is, Filsafat Tasawuf, Bandung : Pustaka Setia, 2010
  • Muchsin Labib, Para Filosof sebelum dan sesudah Mulla Shadra, Jakarta : Al-Huda 2005
  • blogdetik.com/2011/08/31/syihab-al-din-abu-hafs-umar-al-suhrawardi-telaah-kitab-awarif-al-ma’arif/
  • Ragil-kul.blogspot.com/2011/03/tasawuf-pemikiran-israqi-suhrawardi-al.html
  • blogspot.com/2013/04/filsafat-islam-suhrawardi-al-maqtul-dan.html
  • Kisah dan Al –Kisah No 06/14-27 Maret 2005 – http://www.sufiz.com/jejak-sufi/as-suhrawardi-sufi-“cahaya-allah”-yang-dipancung.html

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑